NET24JAM.CO.ID : Tabagsel,
Aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Mandailing Natal (Madina) kembali menggeliat. Setelah sebelumnya ditertibkan aparat dengan mengamankan belasan alat berat, puluhan excavator disebut kembali masuk dan beroperasi di lokasi tersebut.
Di tengah kembali maraknya aktivitas PETI itu, muncul dugaan adanya pihak tertentu yang berperan sebagai fasilitator, termasuk seorang oknum berinisial S, yang disebut-sebut merupakan salah satu ketua Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Rabu, 2/9/2026.
Informasi tersebut disampaikan sejumlah warga yang mengetahui aktivitas di sekitar lokasi tambang. Mereka menyebut S diduga memiliki hubungan dengan pihak yang mengatur keluar-masuknya alat berat menuju kawasan tambang.
Namun, informasi mengenai dugaan keterlibatan oknum OKP tersebut belum terverifikasi secara independen.
Jalur menuju kawasan tambang disebut melalui Desa Panabari, Kecamatan Tano Tombangan Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan. Warga menduga aktivitas alat berat kembali berlangsung setelah sebelumnya aparat kepolisian melakukan penindakan terhadap kegiatan PETI di kawasan tersebut.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa alat berat yang menuju lokasi tambang umumnya melewati jalur Panabari. Warga juga menyebut adanya pihak berinisial FS yang diduga berperan memfasilitasi aktivitas tersebut.
“Setiap alat berat yang masuk ke lokasi tambang biasanya melalui Desa Panabari. Dari informasi yang beredar, ada oknum berinisial FS yang disebut-sebut mengurus dan memfasilitasi para penambang”, ujarnya.
Warga lainnya menyebut FS diduga memiliki hubungan kerja sama dengan S, yang disebut sebagai salah satu ketua OKP dikabupaten Mandailing Natal.
Saat dikonfirmasi pada Selasa (1/9/2026), S membantah dugaan keterlibatannya dalam aktivitas penambangan emas menggunakan alat berat di kawasan tersebut.
“Mohon maaf saya tidak tau perihal alat berat yg saudara maksud”. Dijawabnya melalui pesan singkat WhatsApp.
Sementara itu, Pemerhati lingkungan Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) Elvan Efendi meminta Polda Sumatera Utara tidak berhenti pada penindakan terhadap alat berat.
Menurutnya, Aparat perlu menelusuri pihak-pihak yang diduga menjadi penghubung, fasilitator, maupun pihak yang memperoleh keuntungan dari aktivitas PETI tersebut.
“Kalau benar puluhan excavator kembali beroperasi setelah dilakukan penindakan, tentu harus ditelusuri siapa yang memasukkan alat berat, siapa yang mengatur dan siapa yang mendapatkan keuntungan,” Cetus Elvan.
Ia menilai keberadaan puluhan alat berat di kawasan tersebut tidak mungkin berlangsung tanpa adanya akses dan jaringan tertentu.
“Kami meminta Polda Sumut segera turun kembali ke lapangan dan mengusut jaringan di belakang aktivitas PETI ini. Jangan hanya alat berat yang diamankan, tetapi pihak yang diduga mengendalikan aktivitasnya juga harus ditelusuri,” tegasnya.
Elvan juga meminta aparat memastikan status kawasan yang menjadi lokasi aktivitas tambang, terutama karena kawasan tersebut disebut berada di sekitar wilayah penyangga Taman Nasional Batang Gadis (TNBG).
Menurut dia, apabila aktivitas PETI kembali dibiarkan, kerusakan hutan dan pencemaran sungai berpotensi semakin meluas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Polda Sumatera Utara mengenai dugaan keterlibatan oknum ormas maupun pihak lain yang disebut-sebut berada di balik kembali beroperasinya PETI di kawasan perbatasan Tapsel-Madina.
(Dedi Tison).
Editor : Fendi






